www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Jawa Tengah, PDIP, dan Pemilu 2019

Posted by On 00.07

Jawa Tengah, PDIP, dan Pemilu 2019

Ilustrasi: Sejumlah pendukung calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Taj Yasin melakukan perayaan kemenangan dengan aksi jalan kaki di Jalan Dr Cipto, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/6).
Ilustrasi: Sejumlah pendukung calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Taj Yasin melakukan perayaan kemenangan dengan aksi jalan kaki di Jalan Dr Cipto, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/6). | Aditya Pradana Putra /ANTARA FOTO

Anggapan, bahwa Jawa Tengah tak ramah terhadap petahana, akhirnya tumbang. Ganjar Pranowo kembali akan memimpin Jawa Tengah versi quick count (QC) beberapa lembaga survei. Dengan popularitas dan soliditas kader partai , Ganjar telah berhasil melawan kutukan kekalahan petahana.

Kemenangan Ganjar ini tentu tak lepas dari suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sebagai provinsi “basis merah” tentunya partai banteng moncong putih tidak ingin kehilangan suara. Jawa Tengah selalu menjadi pertaruhan bagi PDIP. Bahkan Ketua Umum PDIP selalu memberi peringatan kepada tim sukses. Jika calon PDIP kalah, mereka akan “disembelih”.

Kemenangan Ganjar saat ini tentu berbeda dengan kekalahan Bibit Waluyo di Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) 2013. Saat itu Bibit Waluyo tidak didukung oleh PDIP. PDIP mendukung pasangan Ganjar-Heru. Padahal pada Pilkada 2008 Bibit, pemilik jargon bali ndeso mbangun ndeso itu, adalah calon gubernur yang didukung oleh PDIP.

Kekalahan petahana pada 2013 juga disebabkan kurang solidnya mesin partai yang mendukung Bibit. Kurang bekerjanya mesin partai ini juga dikarenakan Bibit merasa unggul. Bibit dulu sepertinya kurang memedulikan basis suara PDIP yang menyebar di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah.

Rumah banteng

Jawa Tengah memang menjadi rumah bagi PDIP. Rumah ini pasti selalu ingin dijaga oleh Megawati selaku ketua umum partai. Segala daya dan upaya diusahakan untuk memenangkan pasangan calon Ganjar-Yasin. Dan hasilnya pun cukup memuaskan. Pasangan ini memperoleh suara 58 persen.

Namun, perolehan ini tidak cukup besar bagi PDIP Jawa Tengah. Suara ini jauh dari banyak survei yang dirilis jelang Pilkada. Survei jelang Pilkada menempatkan Ganjar-Yasin menang mutlak 78 persen dibandingkan pasangan Sudirman-Ida.

Jika melihat kecenderungan survei jelang Pilkada, suara PDIP dominan menguasai hampir seluruh wilayah Jawa Tengah. Kekuatan suara menyebar merata di hampir semua kabupaten/kota.

Namun, melihat hasil QC, PDIP tidak lagi menjadi kekuatan utama di kabupaten/kota. Partai pengusung Sudirman-Ida dapat mengambil ceruk suara PDIP di beberapa daerah. Seperti di daerah selatan dan bagian teng ah Jawa Tengah.

Rontoknya sebagian suara PDIP ini perlu menjadi catatan penting bagi Ganjar dan PDIP. Pasalnya, kurang dari setahun lagi pemilu 2019 akan terselenggara. PDIP tentu tidak ingin suaranya hilang banyak di pemilu 2019. Mereka pun ingin tetap menjadikan Jawa Tengah sebagai rumah banteng.

Hal itu juga mengingat kekalahan calon PDIP di Jawa Barat dan Jawa Timur. Walaupun bukan lumbung suara utama, kekalahan calon PDIP di Jawa Barat dan Jawa Timur perlu menjadi catatan sendiri bagi pengurus PDIP.

Apalagi di Jawa Barat pasangan calon yang diusung PDIP hanya memperoleh suara 12 persen. Walaupun melampaui beberapa survei jelang Pilkada, perolehan ini tidak cukup untuk memperkuat basis PDIP di Jawa Barat.

Kembali pada kontestasi di Jawa Tengah, PDIP perlu memikirkan formula agar suaranya tidak hilang. Salah satunya adalah mendekat pada basis suara umat Islam. Basis suara umat Islam perlu disapa oleh PDIP dengan menempatkan calon-calon dari rahim ormas I slam di setiap daerah pemilihan. Pintu masuknya tentu adalah Ganjar-Yasin.

Ganjar dapat masuk ke wilayah “suara hijau” untuk menjaga harmoni. Walaupun tidak mudah, mengandalkan suara tradisional di Jawa Tengah bisa menggerus suara PDIP. Apalagi tahun 2019 pemilih pemula dari kelompok milenial akan menggunakan suaranya.

Lebih lanjut, perolehan suara Sudirman-Ida yang melampaui ekspektasi lembaga survei pun menguatkan harapan partai-partai Islam untuk mendulang suara di pemilu 2019. Jika parpol Islam ingin mendulang suara, maka perolehan Sudirman-Ida perlu dijaga.

Artinya, pasca Pilkada, kader parpol Islam perlu terus menjalin silaturahmi dengan kekuatan-kekuatan masyarakat. Menjadi suara dengan terus membangun komunikasi ini penting demi menguatkan basis di setiap wilayah.

Politik berkeadaban

Saat semua bekerja melalui pendidikan politik yang beradab, maka Pemilu akan menjadi ruang dialog kewargaan. Pemilu akan menjadi ruang partisipasi publik menyuarakan opini dan pilihan. Opini dan pilihan yang didasarkan pada rasionalitas dan keyakinan terhadap adanya perubahan akan menggerakkan kehidupan menuju keadaban.

Kerja itu pula yang akan menggerus suara golput. Golput yang masih tinggi -sekitar 30 persen0- menjadi tantangan bagi pemimpin.

Golput bukan pilihan bijak. Golput telah merusak demokrasi. Demokrasi yang dibiayai mahal oleh pemerintah sengaja “dirusak” oleh segelintir orang yang apatis. Kelompok apatis perlu mendapat sentuhan “demokrasi” agar mereka terbangun untuk memilih di pemilu 2019.

Ini adalah tantangan semua. Ganjar-Yasin yang akan memimpin Jawa Tengah perlu menjadi pemimpin semua warga Jawa Tengah. Walaupun mereka pasti tetap akan menjadi kader PDIP dan PPP, namun kepentingan warga Jawa Tengah perlu menjadi yang utama.

Pesta demokrasi Pilkada memang telah usai. Namun, bangsa Indonesia akan menghadapi pemilu 2019.

Pemilu 2019, khususnya di Jawa Tengah, akan menjadi pert aruhan bagi PDIP. Apakah partai ini masih menjadi primadona atau warga Jawa Tengah akan berpindah ke lain hati. Kita tunggu jawabannya di April 2019.

Benni Setiawan, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta.
Sumber: Berita Jawa Tengah

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »