www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ganjar Tegaskan Pendidikan Indonesia Tak Perlu Tiru Finlandia

Posted by On 01.07

Ganjar Tegaskan Pendidikan Indonesia Tak Perlu Tiru Finlandia

JawaPos.com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) nonaktif, Ganjar Pranowo menegaskan, seharusnya solusi pendidikan Indonesia tidak meniru sistem milik negara lain. Melainkan, seharusnya kembali pada substansi mendidik yakni menempa moral dan etika manusia.

Negara yang dimaksud Ganjar adalah Finlandia. Dimana negara tersebut, memang dikenal mempunyai sistem pendidikan modernnya. Bahkan, sampai saat ini masih dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

“Saya pernah ke sana (Finlandia) ke LAN-nya, pejabat tingginya orang partai. Saya tanya bagaimana anda memisahkan kepentingan politik dan profesionalisme birokrasi, jawabnya etika,” kata Ganjar dalam dialog dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah di Kantor PGRI Jalan Lontar Semarang, Sabtu (2/6).

Menyoal soal etika tadi, Ganjar yang juga calon gubernur petahana itu lantas meng isahkan, bagaimana ia menggulirkan Peraturan Gubernur tentang pembatasan emisi kendaraan di lingkungan Pemprov Jateng. Setiap hari Jumat, seluruh pegawai termasuk gubernur dilarang membawa kendaraan pribadi. Boleh naik sepeda, jalan kaki atau kendaraan umum.

“Tapi saya cabut lagi pergub itu karena semua cheating (curang). Bawa mobil diparkir di Taman KB. Ironisnya yang pertama kali melanggar itu Satpol PP yang seharusnya menegakkan pergub. Jadi ini soal moral dan etika, sistem dan regulasi nanti dulu deh,” katanya.

Dalam dunia berkaitan dengan sektor pendidikan, pun membeberkan soal seorang guru yang nekat nyogok agar bisa naik pangkat jadi kepala sekolah. Belum lagi pihak yang berkeinginan mendirikan sekolah tapi melalui kolusi.

Soal ini, diklaim Ganjar berpangkal ketika dirinya dihubungi seseorang yang ingin mendirikan sekolah SMA. Orang itu menyatakan akan mendukung Ganjar pada Pilgub jika izin pendirian sekolah diterbitkan.

“Saya bilang sila hkan mendaftar nanti diverifikasi. Eh dijawab ‘wong mau didukung kok nggak mau bantu’. Saya balas lagi, kalau mendukung silahkan, kalau pakai syarat tidak usah,” tegasnya.

Menilik dari kasus-kasus seperti ini, maka Ganjar menegaskan, soal etika harus selesai ditingkat pemimpin, penegak hukum, dan tak lupa pengajarnya sendiri.

Dalam dialog turut dihadiri Ketua PP PGRI Jateng Widadi, Ketua Dewan Kehormatan Guru Indonesia PGRI Sudharto, Rektor Universitas PGRI Muhdi serta puluhan pengurus dan anggota PGRI Jateng lainnya.

Di kesempatan itu, Widadi mengatakan bahwa, PGRI mengakui kinerja Ganjar pada periode pertama. Khususnya untuk sektor pendidikan. Sehingga, ia menyebut PGRI siap bekerja sama lebih intensif dengan Ganjar ketika nanti menjabat lagi pada periode kedua. “Kami siap diajak bicara lagi ke depan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Sudharto memilih menyoroti tanggung jawab pendidikan lebih baik dikembalikan ke sekolah. Lantaran, Ia yakin kepala sekolah mampu mengemban amanat itu. “Pendidikan karakter, budi pekerti akan jalan, dikembalikan ke sekolah saja,” katanya.

Sementara itu, Muhdi mengapresiasi inisiatif Ganjar dalam memperjuangkan nasib guru-guru tidak tetap bersama PGRI hingga ke Presiden Jokowi. Berkatnya, pemerintah pusat menyatakan akan merekrut 100 ribu guru. “Kami siap membantu bapak (Ganjar) dalam berkontribusi memikirkan pendidikan di Jawa Tengah,” tegas Rektor UPGRIS.

Sederet usulan lain yang sempat dibahas dalam dialog tersebut diantaranya agar pejabat di dinas pendidikan diisi orang-orang berkompeten. Selain itu juga diusulkan bantuan alat kesenian seperti gamelan di sekolah-sekolah.

(gul/JPC)

Sumber: Google News | Berita 24 Jateng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »