www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Seni dan Nilai Kebajikan

Posted by On 22.08

Seni dan Nilai Kebajikan

28 Mei, 2018 - 06:00 OPINI

Endang Caturwati

Direktur Kesenian Ditjen Kebudayaan, Kemdikbud

SENI tradisional, adalah bagian dari totalitas kehidupan, yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus, dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilai-nilai manusia yang tidak akan pernah habis. Dalam perkembangan sejarah di Indonesia, terutama di Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, seni tradisional banyak memberikan kontribusi pada masyarakat, terutama membentuk karakter sikap, budi, dan bahasa.

Seni tradisional telah menjadi media atau alat yang sangat berjasa dalam mempersatukan umat manusia, yaitu menyebarkan agama Islam, atau metode untuk menerapkan ajaran-ajaran agama Islam. Agama Islam disebarkan oleh para wali tanpa kekerasan. Islam masuk ke tanah Jawa dengan jalan damai. Sesuai dengan makna dasar Islam dari kata aslama, yang mengandung makna damai, ternyata panji-panji Islam tempo dulu mampu menyebarkan agama Islam dengan damai. Penyebaran Islam di Jawa, terutama Indonesia berjalan lancar dan tidak menimbulkan konfrontasi dengan pemeluk agama sebelumnya. Islam masuk ke Indonesia melalui pantai Aceh pada abad ke-13 M, dibawa oleh para perantau dari berbagai penjuru, seperti Arab saudi dan sebagian dari Gujarat

Nilai kebajikan

Penyebab proses Islami berjalan damai karena kepiawaian para mubalig dalam memilih media dakwah, seperti sosial budaya, ekonomi dan politik. Sunan Gunung Jati (Cirebon Jawa Barat), misalnya mampu menarik simpati rakyat Cirebon dan sekitarnya dengan pertunjukan Topeng. Dengan melakukan pendekatan secara filosofis yang tersirat pada simbol-simbol gerak tari dan pemakaian kedok dengan lima warna dan rupa. Ia mampu me njabarkan personifikasi dari karakter atau watak manusia, dengan sareat, tarekat, hakekat, marifat, dan pusatnya manusia napsu mulhimah yang digambarkan dengan tokoh Klana, Tumenggung, Rumiang, Pamindo dan Panji. Tarian Panji merupakan masterpiece dari rangkaian lima tarian Topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Apabila manusia dapat mencapai tingkat “panji” yang mampu menahan diri, emosi, serta nafsu, yang digambarkan dengan suara gemuruhnya gamelan, akan tetapi sang panji tetap bergerak dengan tenang, maka artinya telah mencapai manusia hidayah atau sempurna.

Begitu pula Sunan Kalijaga (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dengan pertunjukan wayang kulit yang memunculkan berbagai karakter manusia yang dibawakan oleh dalang sebagai sutradara. Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo, Sunan Kalija ga menciptakannya dengan mengadopsi wayang beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang telanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit di mana orang hanya bisa melihat bayangannya saja. Ki Dalang (Sunan Kalijaga) dengan kepiawaiannya dapat menghidupkan berbagai lakon kehidupan manusia, merupakan dakwah yang sangat bijaksana.

Di Kraton Yogyakarta Tari Bedaya ciptaan Hamengku Buwana ke 1, ditarikan oleh sembilan orang penari putri, merupakan simbol manusia sempurna (dikategorikan manusia sempurna, bila bisa “menjaga” lubang manusia yang berjumlah sembilan). Adapun Serimpi ditarikan oleh empat penari putri (tari perang) merupakan lambang, bahwa perempuan sebagai penerus generasi bangsa harus mampu mempertahankan dan melawan angkara murka. Empat penari, lambang dari empat arah mata angin (uta ra, selatan, timur, barat: kiblat papat), agar manusia selalu waspada dan melihat ke berbagai arah, serta dapat mengendalikan 4 sifat napsu amarah, laumah, muatmainah, sofiah , juga empat sifat jalan perkembangan karakter, sabar, ihklas, tawakal, dan taqwa. Sifat-sifat ini merupakan nilai kebajikan yang terdapat pada QS. 3 Surat Al Imran ayat 200.

Dalam Syair lagu Tembang Jawa yang berjudul “Lir ilir” ciptaan Sunan Kalijaga terdapat syair “Penekno blimbing kuwi” yang bermakna menyuruh salat lima waktu, begitu juga pada tembang Sunda Jempang Bangkong, terdapat syair hirup katungkul ku pati, paeh teu nyaho di mangsa yang bermakna ketika hidup harus ingat, bahwa mati tidak tahu kapan waktunya.

Selanjutnya di daerah Aceh, Minang, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, terdapat seni pertunjukan yang dinamakan Hadro, Saman, Solawat, dan Genjringan, baik menggunakan media vokal maupun gerak, serta diiringi dengan alat musik rebana yang isi syairnya m erupakan pujian pada para nabi, dan puji syukur pada Alah SWT. Semua itu merupakan ajaran kebajikan, serta metoda untuk lebih meyakini ajaran-ajaran Agama Islam. Seni menjadi kepanjangan norma serta nilai, yang dapat diterapkan sebagai pendidikan karakter, yang berlaku sepanjang zaman.

Karya-karya seni hasil kreativitas para seniman juga berusaha mendekatkan manusia pada alam yang arif. Alam menjadi pijakan atau filosofi seni pertunjukan, di Sumatera Barat. Betapa alam yang indah telah disediakan oleh Allah SWT untuk manusia. Alam menuntun manusia pada kearifan, sebagaimana pepatah Minang “alam takambang jadi guru” . Alam di sekeliling manusia merupakan guru yang bijak bagi manusia, sehingga tidak seharusnya manusia menyia-nyiakannya.

Nilai-nilai Islami, telah tertanam sejak lama pada karya-karya seni hasil kreativitas para seniman Indonesia. Hal tersebut dituangkan pada bentuk seni pertunjukan wayang, seni teater, seni tari, seni sastra, seni vokal, seni rupa, seni batik, seni tenun, dan lain-lain, berupa simbol-simbol yang penuh makna, yang menggambarkan, nilai-nilai kebajikan, hubungan dengan Allah, sesama manusia dan alam, sebagaimana yang terdapat pada ajaran Islam di antaranya, bertaqwa kepada Allah SWT (QS Al Baqarah 2 ayat 2, 21), mendahulukan kepentingan orang lain (QS 2:177, 59:9), melawan angkara murka, berbuat baik dan beramal (QS 3:92, 3:134), tolong menolong dan kasih sayang (QS Al Maidah 5:2), ingat kematian (QS Al Ashr:1-3). ***

Sumber: Google News | Berita 24 Jateng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »