www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Mengapa Islam Menjadi Agama Mayoritas Di Indonesia? (1)

Posted by On 12.37

Mengapa Islam Menjadi Agama Mayoritas Di Indonesia? (1)

  • Babel
  • Bengkulu
  • Jabar
  • Jateng
  • Jatim
  • Joglo
  • Kalbar
  • Kalteng
  • Papua
  • Sumbar
  • Sumsel
  • Sumut
  • RMTV
  • KBP
News Tickers
  • Kementan Pastikan Harga Ayam Di Pedagang Stabil, 13 FEBRUARI 2018 , 05:41:00
  • MUI Minta Masyarakat Tidak Terpengaruh Isu Di Medsos, 13 FEBRUARI 2018 , 05:33:00
  • Anies-Sandi Belum Berhasil Atasi Banjir, 13 FEBRUARI 2018 , 05:20:00
  • Pengungsi Gunung Agung Sudah Boleh Pulang, 13 FEBRUARI 2018 , 04:37:00
  • KPU Minta PPLN Segera Dibentuk, 13 FEBRUARI 2018 , 04:32:00
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Verified

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (17)

Mengapa Islam Menjadi Agama Mayoritas Di Indonesia? (1)

SELASA, 13 FEBRUARI 2018 , 11:33:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Mengapa Islam Menjadi Agama Mayoritas Di Indonesia? (1)

Nasaruddin Umar/Net

PERTANYAAN yang sering muncul dari kalangan il­muan ialah mengapa Islam menjadi agama mayoritas di Inonesia? Jika diasumsi­kan Islam masuk di Indone­sia pada abad ke-13, seperti diyakini umumnya ilmuan Barat (orientalis), itu arti­nya bersamaan datangnya agama Kristen dan Katolik. Jika demikian adan­ya faktor apa yang membuat Islam begitu cepat berkembang, jauh melampaui agama-agama baru lain yang sezaman datangnya ke Indone­sia? Mengapa bukan agama Kristen atau Kato­lik lebih dominan seperti Philipina? Bukankah agama Kristen telah mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah kolonialis Belanda yang pernah menjajah Indonesia kurang lebih 300 ta­hun? Sementara Islam sama sekali tidak pernah mendapatkan dukungan dari beberapa bangsa yang pernah menguasai Indonesia, seperti Por­tugis, VOC, Belanda, dan Jepang? Berita Terkait Warisan Politik Kerajaan Mataram Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (2) Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (1)

Pertanyaan ini pernah dicoba dijawab oleh Harry J. Benda dalam bukunya The Crescent and the Rising Sun. Ia menyebut ada beber­apa faktor yang membuat Islam begitu cepat berkembang di Indonesia melampaui agama Keristen. Di antaranya ada faktor politik, faktor ekonomi, faktor sosial budaya, dan faktor sub­stansi ajaran.
Faktor politik ialah pengaruh keislaman Kera­jaan Mataram di penghujun g abad ke-16, yang memerintah Jawa Tengah kemudian serta-mer­ta menaklukkan kerajaan-kerajaan pesisir yang umumnya pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Seabad kemudian, pertengahan abad ke-17, agama Islam berhasil menguasai hampir se­luruh wilayah Indonesia, khususnya Indonesia bagian Barat. Keislaman Kerajaan Mataram menurut H.J. Benda tidak begitu mendalam dan dilukiskannya hanya sebagai Islam "kulit ari", dan keadaan ini berlangsung sangat lama sebelum kelompok santri melakukan gebrakan dengan menggarap kaum abangan dan kaum priyayi.
Kekalahan Kerajaan Hindu-Majapahit se­makin membuat para pedagang muslim dari berbagai negeri muslim semakin leluasa men­guasai kota-kota dagang di sepanjang pesisir pulau Jawa. Para saudagar muslim jauh lebih sulit menembus keraton Majapahit yang didom­inasi agama Hindu ketimbang cikal bakal Kera­jaan Mataram yang lebih didominasi mistisisme Jawa. Sebagai konsesi atas dukungan para saudagar mu slim, Kerajaan Mataram memberi­kan akses untuk melakukan kolaborasi dengan keraton. Para penguasa yang baru dinobatkan harus bersandarkan diri kepada para ulama. Hanya dengan pengesahan ulama maka se­orang pangeran bisa menyandang pangeran Is­lam. Sah dan tidaknya sebuah perkawinan be­rada di bawah otoritas Qadhi yang terdiri atas kaum ulama. Lama kelamaan peradaban aban­gan semakin pudar berganti peradaban santri.
PERTANYAAN yang sering muncul dari kalangan il­muan ialah mengapa Islam menjadi agama mayoritas di Inonesia? Jika diasumsi­kan Islam masuk di Indone­sia pada abad ke-13, seperti diyakini umumnya ilmuan Barat (orientalis), itu arti­nya bersamaan datangnya agama Kristen dan Katolik. Jika demikian adan­ya faktor apa yang membuat Islam begitu cepat berkembang, jauh melampaui agama-agama baru lain yang sezaman datangnya ke Indone­sia? Mengapa bukan agama Kristen atau Kato­lik lebih dominan seperti Philipina? Bukankah agama Kristen telah mendapatkan dukungan ku at dari pemerintah kolonialis Belanda yang pernah menjajah Indonesia kurang lebih 300 ta­hun? Sementara Islam sama sekali tidak pernah mendapatkan dukungan dari beberapa bangsa yang pernah menguasai Indonesia, seperti Por­tugis, VOC, Belanda, dan Jepang?
Pertanyaan ini pernah dicoba dijawab oleh Harry J. Benda dalam bukunya The Crescent and the Rising Sun. Ia menyebut ada beber­apa faktor yang membuat Islam begitu cepat berkembang di Indonesia melampaui agama Keristen. Di antaranya ada faktor politik, faktor ekonomi, faktor sosial budaya, dan faktor sub­stansi ajaran.
Faktor politik ialah pengaruh keislaman Kera­jaan Mataram di penghujung abad ke-16, yang memerintah Jawa Tengah kemudian serta-mer­ta menaklukkan kerajaan-kerajaan pesisir yang umumnya pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Seabad kemudian, pertengahan abad ke-17, agama Islam berhasil menguasai hampir se­luruh wilayah Indonesia, khususnya Indonesia bagian Barat. Keisla man Kerajaan Mataram menurut H.J. Benda tidak begitu mendalam dan dilukiskannya hanya sebagai Islam "kulit ari", dan keadaan ini berlangsung sangat lama sebelum kelompok santri melakukan gebrakan dengan menggarap kaum abangan dan kaum priyayi.
Kekalahan Kerajaan Hindu-Majapahit se­makin membuat para pedagang muslim dari berbagai negeri muslim semakin leluasa men­guasai kota-kota dagang di sepanjang pesisir pulau Jawa. Para saudagar muslim jauh lebih sulit menembus keraton Majapahit yang didom­inasi agama Hindu ketimbang cikal bakal Kera­jaan Mataram yang lebih didominasi mistisisme Jawa. Sebagai konsesi atas dukungan para saudagar muslim, Kerajaan Mataram memberi­kan akses untuk melakukan kolaborasi dengan keraton. Para penguasa yang baru dinobatkan harus bersandarkan diri kepada para ulama. Hanya dengan pengesahan ulama maka se­orang pangeran bisa menyandang pangeran Is­lam. Sah dan tidaknya sebuah perkawinan be­rada di bawah otoritas Qadhi yang terdiri atas kaum ulama. Lama kelamaan peradaban aban­gan semakin pudar berganti peradaban santri.
Budaya masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya didominasi oleh budaya pater­nalistik dan patriarkal. Masyarakat luas sangat tergantung dan mengikuti rajanya. Apa kata rajanya itu kata warganya. Rajanya beralih ke agama Islam maka serta-merta rakyatnya ikut menganut agama Islam. Demikian pula kaum perempuan mengikuti kaum laki-laki. Sebagai istri ia mengikuti suaminya dan sebagai anak ia mengikuti ayahnya. Begitu mereka beralih ke agama Islam maka dengan sendirinya mer­eka ikut beragama Islam. Keislaman kerajaan Mataram tidak pernah dibayangkan oleh pe­merintah Hindia Belanda akan secepat itu. To­koh-tokoh Kristen di Indonesia terlalu banyak mendengar nasehat dari pemerintah Hindia Be­landa yang mengasumsikan sifat sinkretik umat Islam di Indonesia di tingkat desa tidak perlu dipermasalahkan karena mereka lebih gam­pang dikristenkan dari pada negara-negara muslim lainnya. (H.J. Benda, h. 39).

Berita Lainnya Selengkapnya Warisan Politik Kerajaan Mataram

Warisan Politik Kerajaan Mataram

SELASA, 13 FEBRUARI 2018

Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (2)

Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (2)

SENIN, 05 FEBRUARI 2018

Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (1)

Islam Dan Keberadaan Agama & Kepercayaan Lokal (1)

MINGGU, 04 FEBRUARI 2018

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori China

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori China

JUM'AT, 02 FEBRUARI 2018

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Persia

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Persia

JUM'AT, 02 FEBRUARI 2018

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Gujarat

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Gujarat

RABU, 31 JANUARI 2018

VIDEO POPULERSri Mulyani Antek IMF & World Bank

Sri Mulyani Antek IMF & World Bank

, 12 FEBRUARI 2018 , 19:00:00

Ulama & Pastor Diserang, Kita Sedang Diadu Domba!

Ulama & Pastor Diserang, Kita Sedang Diadu Domba!

, 12 FEBRUARI 2018 , 17:00:00

FOTO POPULERPanglima TNI Tinjau Lokasi Longsor

Panglima TNI Tinjau Lokasi Longsor

, 11 FEBRUARI 2018 , 05:10:00

Selfie Bareng Disabilitas

Selfie Bareng Disabilitas

, 11 FEBRUARI 2018 , 03:48:00

Merpati Putih Raih Rekor MURI

Merpati Putih Raih Rekor MURI

, 11 FEBRUARI 2018 , 02:59:00

Jamu Jago Jaya Suprana Show Berita PopulerBerita TerkiniPenyerangan Tokoh Agama Merusak Simpul Kebhinnekaan

Penyerangan Tokoh Agama Merusak Simpul Kebhinnekaan

11 Februari 2018 21:20

Jokowi Sudah Jadi Capres Sekalipun Tanpa PDIP

Jokowi Sudah Jadi Capres Sekalipun Tanpa PDIP

11 Februari 2018 09:55

Azas Tigor Nainggolan: Kami Tidak Takut Melawan Radikalisme

Azas Tigor Nainggolan: Kami Tidak Takut Melawan Radikalisme

12 Februari 2018 08:25

Ulama Dan Pastor Diserang, Susah Untuk Tidak Curiga Kalau Kita Sedang Diadu Domba

Ulama Dan Pastor Diserang, Susah Untuk Tidak Curiga Kalau Kita Sedang Diadu Domba

12 Februari 2018 10:24

Mohon Maaf, Prestasi Bu Sri Mulyani Mengecewakan

Mohon Maaf, Prestasi Bu Sri Mulyani Mengecewakan

12 Februari 2018 14:50

Margiono Nomor 1

Margiono Nomor 1

13 Februari 2018 14:29

Target Pertumbuhan Ekonomi

Target Pertumbuhan Ekonomi

13 Februari 2018 14:23

Masinton Sindir Laode KPK Tidak Disiplin

Masinton Sindir Laode KPK Tidak Disiplin

13 Februari 2018 14:14

Desmond: Siapa Bilang DPR Anti Kritik?

Desmond: Siapa Bilang DPR Anti Kritik?

13 Februari 2018 13:58

Setelah SBY, Giliran DPP Demokrat Melaporkan Firman Wijaya

Setelah SBY, Giliran DPP Demokrat Melaporkan Firman Wijaya

13 Februari 2018 13:54

Trending Tag
# GANJARPRANOWO
# HPN2018
# JOKOWIDODO
# PILKADA2018
# PILKADANTT2018
# RUUMD3
Book Fayakhun e-Paper RMOL Sabar Gorky Malam Budaya Media Kit RMOL Sumber: Google News | Berita 24 Jateng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »