www.AlvinAdam.com

Berita 24 Jawa Tengah

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Menyelami Kegairahan Masa Kecil

Posted by On 17.47

Menyelami Kegairahan Masa Kecil

OPINI

Menyelami Kegairahan Masa Kecil

Ratusan anak-anak pelajar tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) turut memeriahkan Odolan 2017

Menyelami Kegairahan Masa KecilTRIBUN JATENG/GRAFIS/BRAMIlustrasi Dolanan Anak

Opini ini ditulis oleh Asri Candra Puspita, Owner lutunna rental Kudus , alumni Fakulas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Acara bertajuk “Olimpiade Dolanan Anak (Odolan)” yang dilakukan oleh Rumah Belajar Ilalang 20 â€" 22 Oktober 2017 lalu, di Jepara, bertempat di Desa Kecapi RT 14/02 Kecamatan Tahunan. Ratusan anak-anak pelajar tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak- kanak (TK) turut memeriahkan Odolan 2017 yang memasukin tahun ke-5 tersebut menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang permainan tradisional yang kian terpinggirkan.

Odolan yang bertujuan agar anak-anak Jepara pada khususnya dan secara luas tidak tergantung pada game-game modern yang menurutnya kurang edukatif dan bersifat pasif. Bagi yang lahir pada tahun 1990-an atau sebelumnya, tentu familiar dengan lagu karangan Saridjah Niung Bintang Soedibjo atau lebih dikenal dengan Ibu Sud ini. Dulu, lagu tersebut dinyanyikan sebagai pengiring permainan tradisional.

Olimpiade Dolanan Anak mengajak masyarakat untuk menyegarkan kembali ingatan tentang beragam permainan anak nusantara yang kini mulai terpinggirkan. Permainan tradisional atau dolanan anak saat ini terancam punah karena mulai tergusur oleh gempuran budaya modern yang lebih banyak diterima anak-anak.

Belajar dari Olimpiade Dolanan Anak Jepara

Kita bisa belajar banyak dari Odolan yan g diselenggarakan Rumah Belajar Ilalang untuk revitalisasi menjaga kelestarian dolanan tersebut. Anak-anak sekarang lebih senang bermain playstation atau menonton televisi dibandingkan dolanan anak

Asri Candra Puspita, Owner lutunna rental Kudus
Asri Candra Puspita, Owner lutunna rental Kudus (TRIBUN JATENG)

Friedrich Firobel memasukan permainan kanak-kanak di dalam “Kindergarten”-nya, sebagai anasir mutlak dalam pendidikan anak-anak di bawah umur 7 tahun, sebelum itu sudah ada perhatian terhadap soal tersebut. Jumlah permainan kanak-kanak itu banyak sekali dan boleh dibilang tak terhitung banyaknya.

Ada pandangan lain tentang permainan kanak-kanak yagn disandarkan pada spontanitas dalam hidupnya kanak-kanak. Dibuktikan oleh Montessori, secara eksperimental, bahwa tumbuhnya jasmani kanak-kanak itu menimbulkan keinginan-keinginan yang kuatnya dorongan atau tuntutan jiwa, yang sering kali berlau secara tiba-tiba atau “spontan” (tak dengan dipikir-pikir sebelumnya).

Permainan dalam Kebudayaan Kita

Budayakan selalu kepada anak kita rasa untuk selalu menjaga serta melestarikan hal-hal yang tradisional kepada anak-anak, khususnya permainan tradisional yang memiliki banyak arti unsur yang baik didalamnya bukan hanya sekedar bermain semata saja.

Walaupun tradisional terlihat kuno untuk jaman yang modern sekarang kita harus tetap melestarikan apa yang sebelumnya telah ada. Jangan juga terlalu memanjakan anak dengan memberi dan mengenalkan mereka pada gadget saat usia dini . Ajaklah anak untuk bermain diluar agar mereka dapat besosialisasi.

Karena itu, anak-anak diajak untuk mencari pijakan yang tepat guna menyesuaikan masa lalu, masa kini dan masa depan. Sedini mungkin mereka diarahkan untuk semaksimal mungkin memanfaatkan masa lalu seraya bersikap realistik bahwa masa kini merupakan titik awal untuk melangkah ke masa depan.

Lahir di era modern, barang tentu mereka tidak dapat mengelak dari nilai, prinsip, dan etos modernitas. Meskipun demikian, beragam efek modernitas yang timbul dewasa ini tidak lantas menuntut anak-anak untuk meninggalkan dan mengubur dalam-dalam kultur nenek moyang.

Demi merealisasikan hal ini, perlu dibentuk sebuah kultur yang mampu menjembatani agar anak-anak tidak gagap memaknai diri. Pada umumnya, anak-anak lebih suka menyesuaikan diri dengan kultur yang ada. Mereka merasa nyaman berada di bawah payung kultur tersebut daripada mencoba hal baru. Keadaan ini membutuhkan proses adaptasi panjang, supaya mengubah mindset anak-anak yang terlanjur akrab dengan jagat maya.

Mengubah kultur membutuhkan tingkat persuasi yang tinggi. Dalam banyak situasi, usaha ini mengalami penolakan dari anak-anak. Pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama dalam menciptakan lingkungan sosia l yang mendukung optimalisasi permainan tradisional, sehingga nalar, karakter, dan gaya hidup anak bisa dibentuk. Membangun pola hidup yang baik perlu digencarkan dengan sistematis, intensif, dan masif. Semoga. (*)

Editor: bakti buwono budiasto Sumber: Tribun Jateng Ikuti kami di Ular Piton Raksasa Kesulitan Bergerak di Dekat Kandang Sapi, saat Didekati Ternyata ... Sumber: Tribun Jateng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »