Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi ...

Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi ... ]]> ...

Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi ...

]]> Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi, Jawa Tengah
1965, kuburan,Hak atas foto YPKP 1965 PATI
Image caption Para pegiat YPKP 1965 wilayah Pati berdoa di lokasi yang diyakini merupakan kuburan massal di Desa Grogolan, Kabupaten Pati.

Sejumlah lokasi di wilayah Purwodadi, Jawa Tengah, diyakini sebagai tempat kuburan massal, pembuangan mayat, serta lokasi eksekusi orang-orang yang dituduh simpatisan atau anggota Partai Komunis Indonesia, PKI, setelah Oktober 1965.

Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan, YPKP 1965-1966 mengatakan menemukan 16 lokasi berbeda di wilayah Purwodadi dan sekitarnya yang menjadi kuburan dari sekitar 5.000 orang-orang yang 'dicap PKI' yang diduga kuat dibunuh oleh kelompok sipil bersenjata atas perintah tentara setelah Oktober 1965.

  • Jokowi perintahkan pencarian kuburan massal korban peristiwa 1965
  • Simposium 1965 dibuka tanpa 'permintaan maaf'
  • Negara Indonesia didakwa dalam peristiwa 1965

Keberadaan kuburan massal dan perkiraan jumlah korban tewas itu didasarkan pada keterangan sejumlah saksi mata, hasil pengecekan langsung, serta analisa tim YPKP.

"Perhitungan kami itu didasarkan keterangan saksi-saksi yang mengungkapkan bahwa tiap malam, tapol (tahanan politik) yang diculik itu mencapai 50 orang dari tahanan. Itu (terjadi) tiap hari dalam tiga bulan," ungkap aktivis YPKP 1965-1966, Bedjo Untung, Rabu (15/11).

YPKP juga mengakui temuan kuburan massal di Purwodadi 'mengacu' pada hasil penelitian aktivis HAM, Poncke Princen, pada 1969, yang disebut sebagai laporan pertama yang dirilis secara terbuka kepada khalayak umum tentang adanya dugaan pembunuhan massal pasca 1965 di Purwodadi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang saksi mata, Radimin, menunjuk gundukan yang diyakini merupakan kuburan massal orang-orang yang dituduh anggota atau simpatisan PKI di pinggiran kota Pati, Jateng, September 2015.

Rabu (14/11) siang, temuan kuburan massal di Purwodadi itu disampaikan YPKP 1965-1966 kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, KOMNAS HAM, di Jakarta. Mereka kemudian meminta Komnas HAM untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Yayasan tersebut berpendapat bahwa walau Komnas HAM telah mengakui keberadaan kuburan massal 1965 di berbagai wilayah Indonesia, temuan ini tidak pernah ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah, sehingga penyelesaian dugaan pelanggaran HAM dalam peristiwa pasca-1965 tidak pernah menemukan titik terang hingga sekarang.

Hak atas foto AFP
Image caption Tuntutan agar pemerintah mengungkap kasus pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh simpatisan atau anggota PKI telah disuarakan secara terbuka sejak berakhirnya rezim Orde Baru pada 1998.

Apalagi, ada penolakan keras dari TNI dan sebagian kelompok Islam dan orang-orang yang menyebut antikomunis yang menganggap peristiwa tersebut 'sudah selesai' dan 'tidak perlu diungkit lagi'.

Berbagai acara yang disiapkan sebagai penyelesaian yang bersifat rekonsiliasi pun, seperti di YLBI Jakarta baru-baru ini, ditolak mentah-mentah oleh mereka.

  • 'Pembiaran' polisi dan 'legitimasi' gebuk PKI di insiden LBH Jakarta
  • Polisi dan ormas cegah Seminar 1965 di LBH Jakarta
  • Mengapa ada kecurigaan dan ketakutan akan bangkitnya PKI?

Lebih lanjut Bedjo Untung mengatakan temuan 16 ti tik lokasi kuburan massal di Purwodadi merupakan yang 'terbesar' dibanding sekitar 122 titik kuburan massal lainnya yang tersebar antara lain di wilayah lain di Jawa Tengah, Banten, Jatim serta Bali.

"Mereka kemungkinan besar adalah orang-orang yang dicap PKI yang berasal dari Blora dan Kudus. Mereka dikirim ke Purwodadi, mungkin karena tempatnya strategis, banyak hutan dan curam," katanya.

'Setiap malam minggu, 50 orang diambil'

Salah-seorang saksi mata yang dihadirkan YPKP adalah Kandar Sumarno, pria kelahiran 1940 warga warga Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jateng, yang sekaligus penyintas korban kekerasan pasca-Oktober 1965.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Mereka kemungkinan besar adalah orang-orang yang dicap PKI yang berasal dari Blora dan Kudus," kata Bedjo Untung, pimpinan YPKP 1965-1966.

"Saya mengetahui dengan kepala mata sendiri, setiap malam minggu, ada pengambilan 50 orang (yang dicap anggota atau simpatisan PKI) untuk dibunuh. Mereka dibawa ke (hutan) Monggot," ungkap Kandar kepada BBC Indonesia.

Hutan Monggot merupakan salah-satu lokasi yang diyakini YPKP sebagai salah-satu dari 16 lokasi kuburan massal di wilayah Purwodadi.

  • Eks tapol 1965: Lima puluh tahun menanti keadilan
  • Komnas HAM: Presiden minta maaf kepada korban, bukan kepada PKI
  • Nasib rekonsiliasi 'jalan di tempat ' di tengah kegaduhan fobia komunisme

Lainnya adalah, antara lain, sungai Ganjing, sungai Glugu, Waduk Simo, Waduk Langon, Sendang Tapak, Daplang, Tego Wanu, Kedung Jati, Mojo Legi, serta Hutan Sanggarahan.

"Saya melihat langsung ada tru k keluar-masuk ke (tempat) tahanan," ungkapnya ketika ditanya apakah dirinya melihat langsung ketika orang-orang itu 'dieksekusi'.

Hak atas foto AFP
Image caption Ada penolakan keras dari sebagian kelompok Islam dan orang-orang yang menyebut sebagai antikomunis dan menganggap penyelesaian kasus 1965 "sudah selesai" dan "tidak perlu diungkit lagi".

Ketika peristiwa 'para tahanan dijemput dengan menggunakan truk', Kandar mengaku berada di dalam 'ruangan tahanan' di bangunan Kantor Kecamatan Toroh.

Dia ditahan karena menjadi pengurus anak cabang Barisan Tani Indonesia (BTI) -organisasi yang dianggap organisasi massa PKI.

Ketika ditanya kan bagaimana dia bisa memastikan bahwa orang-orang yang 'dijemput' itu dibunuh, Kandar menjelaskan hal itu didasarkan keterangan keluarga orang-orang yang dijemput kemudian 'tidak pernah kembali lagi'.

Bedjo Untung juga mengungkap kesaksian seorang bocah mengaku pernah menyertai kakeknya memandikan puluhan mayat yang 'dieksekusi'.

Apa komentar Ansor?

Gerakan Pemuda (GP) Ansor, yang mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), merupakan salah-satu ormas yang disebut pernah disebut 'terlibat' dalam beberapa kasus kekerasan pasca Oktober 1965, utamanya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Hak atas foto BETTMANN / GETTY IMAGES
Image caption Tentara mengangkut sejumlah orang diduga anggota Pemuda Rakyat, 1965.

Dalam perkembangannya, sejumlah pimpinan NU dan kaum muda organisasi ini melakukan upaya rekonsiliasi dengan mantan tapol 1965 dan keluarganya, seperti yang dilakukan organisasi Syarikat Indonesia -organisasi yang didirikan oleh para aktivis muda Nahdlatul Ulama, NU- pada tahun 2000.

  • MKasus 1965: Mengungkap kebenaran, menggelar rekonsiliasi
  • Pro kontra permintaan maaf kepada korban tragedi 1965
  • Korban 1965: 'Saya bertemu algojo yang menembak mati ayah saya'

Kepada BBC Indonesia, salah-seorang ketua GP Ansor, Nuruzzaman, mengatakan pihaknya sudah lama melakukan yang disebutnya 'rekonsiliasi kultural' dengan orang-orang mantan tapol 1965 dan keluarganya.

"Rekonsiliasi kultural tanpa diformalkan. Buktinya sangat banyak, misalnya pesantren-pesantren, ketika rezim Orde Baru tidak memberi kesempatan kepada anak-an ak tapol PKI, pesantren kan menerima dengan baik," kata Nuruzzaman.

Hak atas foto Prajurit TNI berjaga di depan Istana Bogor, saat s
Image caption Prajurit TNI berjaga di depan Istana Bogor, saat sejumlah mahasiswa yang berusaha mendekati Presiden Soekarno.

Menurutnya, kekerasan yang terjadi pasca-Oktober 1965 tidak bisa didudukkan sebagai peristiwa yang 'berdiri sendiri' karena ada sebab lain, misalnya, peristiwa 1948 ketika kyai-kyai NU menjadi korban aksi sepihak yang dilakukan PKI."

"Jadi, respon NU, selain NU 'dikompori' dan difasilitasi, juga ada beban sejarah yang pernah dialami 'pembantaian' PKI terhadap kita," katanya.

Karena it ulah, Nuruzzaman mengajak para mantan tapol 1965 untuk melihat ke depan dan tanpa 'mengungkap dan mengungkit' masa lalu. "Ayo kita bersama-sama menatap masa depan, kita lupakan masa lalu," tandasnya.

Sumber: Google News | Berita 24 Jateng

COMMENTS

Tulis Artikel
Nama

Terkini,50,
ltr
item
Berita 24 Jawa Tengah: Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi ...
Ditemukan 'kuburan massal korban kekerasan 1965 ' di Purwodadi ...
https://ichef.bbci.co.uk/news/320/cpsprodpb/D8BE/production/_98768455_7ca3b9b4-b5ff-4183-99e3-5a81329e9446.jpg
Berita 24 Jawa Tengah
http://www.jateng.berita24.com/2017/11/ditemukan-kuburan-massal-korban.html
http://www.jateng.berita24.com/
http://www.jateng.berita24.com/
http://www.jateng.berita24.com/2017/11/ditemukan-kuburan-massal-korban.html
true
1590791759327373937
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy